Senin, 19 Juli 2010

Pelatihan Gratis BMT / Koperasi Syariah

Ikutilah PELATIHAN GRATIS

Konsep dan Manajemen

Lembaga Keuangan Syariah

BMT / Koperasi Syariah

( 18 Kali Pertemuan )


Infak Pendaftaran Rp 100.000 ( dapat dicicil )

Digunakan untuk ADM Kartu Mahasiswa STIES FORSEBi

dan WAKAF BUKU Ekonomi Syariah & Bisnis

Perpustakaan KOTA ILMU


Bila Anda mengikuti Pelatihan ini Di PINBUK-ICMI

( Pusat Inkubasi Usaha Kecil ICMI )

Anda Harus membayar Pendaftaran dan Biaya Pelatihan

Rp 3.600.000,-

tapi di STIES FORSEBi cuma Pendaftaran

Rp 100.000,- ( Dapat dicicil pula )


Syarat Usia : minimal 12 tahun


Waktu & Tempat :

disesuaikan dengan kesibukan Sekolah / Kuliah / Bekerja ANDA


Dijamin Tidak Mengganggu Waktu Sekolah / Kuliah / Bekerja Anda


Di Buka Kelas Pelatihan Setiap Bulan

Anda Tertarik Hub. STIES FORSEBi

021-99.636.200 # 0813.1066.7450


Materi Pelatihan :

BMT Basic Training :
  • Climate Setting
  • Pengembangan Diri/Keterampilan Manajemen
  • Citra Diri Pengurus/ Pengelola BMT
  • Kebiasaan Efektif
  • Ekonomi Syari´ah
  • Pengantar ekonomi Islam & Muamalah Syari´ah
  • Riba dan Permasalahannya
  • Konsep Dasar LKM-BMT
  • Konsep Dasar LKM dan BMT sebagai LKM Alternatif
  • Pengertian, Visi dan Misi BMT
  • Legalitas Badan Hukum BMT
  • AD/ART BMT
  • Struktur organisasi dan Job Description
  • Proses Pendirian BMT
  • Produk dan Landasan Syari´ah
  • Pengantar Fiqih Muamalah
  • Landasan Syari´ah Produk BMT
  • Teknik Hitungan Basil Simpanan
  • Teknik Hitungan Basil Pembiayaan
  • Prosedur & Administrasi simpanan dan Pembiayaan.
  • Strategi dan teknik Penggalangan Dana
BMT Intermediate Training :
  • Climate Setting
  • Manajemen Pembiayaan
  • Perencanaan Pembiayaan
  • Segmentasi Pembiayaan
  • Analisis Kelayakan Usaha
  • Analisis Pembiayaan
  • Jenis Analisis dan Taksasi Jaminan
  • Teknik dan wawancara dengan Nasabah
  • Pembinaan dan Pengawasan Pembiayaan
  • Kolektibiltas & Strategi Pembiayaan bermasalah
  • Pokusma ( Kelompok Usaha Muamalat
  • Pembentukan dan Pendampingan
  • Strategi pembinaan anggota/nasabah
  • Akuntansi dan Pelaporan Kuangan
  • Akuntansi BMT
  • Pengenalan Software BMT Online
  • Keterampilan Manajemen
  • Manajemen Waktu
  • Motivasi, Disiplin, Etika dan Etos kerja
BMT Advance Training :
  • Climate Setting
  • Perencanaan Strategis
  • Analisis SWOT
  • Budgeting
  • Cash Flow
  • Business Plan
  • Manajemen Dana
  • Pendekatan Omzet
  • Pendekatan Cash Flow
  • Pendekatan Resiko
  • Pendekatan Analisis Rasio Keuangan
  • Analisis kesehatan BMT
  • Kinerja Keuangan
  • Kinerja Kelembagaan
  • Kinerja Manajemen
  • Analisis Visi Misi
  • Kinerja Sosial & Syari´ah
  • Service Excellent
  • Linkage Program
  • Penulisan Proposal Pembiayaan
  • Keterampilan Manajemen

Ada 4 Jenis SEKOLAH BISNIS, PIlih yang mana ?

Ada yang pernah tahu sekolah bisnis? Kalau sekolah akademik pasti anda tahu kan? Ada playgroup, TK, SD, SMA, SMK, S-1, S-2 dan seterusnya.

Dulu saya tidak tahu seperti apakah sekolah bisnis tersebut. Waktu itu yang saya hanya berpikiran untuk mencari peluang bisnis saja.

Sampai suatu ketika saya membaca buku karya Robert T Kiyosaki, akhirnya saya mengetahui ada 4 jenis sekolah bisnis menurutnya. Dan beruntungnya, Kiyosaki sempat mengikuti keempat jenis sekolah bisnis tersebut.

1. Sekolah Bisnis Tradisional.

Sekolah ini berlokasi di perguruan tinggi negeri dan atau universitas swasta berakreditasi. Keduanya menawarkan gelar MBA. Para pengajar atau instrukturnya biasanya adalah karyawan sekolah bisnis tersebut atau karyawan perusahaan yang berpengalaman.

Siswanya sebagian besar berusaha menjadi karyawan yang berpendidikan tinggi dan bergaji tinggi, seperti halnya para pengajar atau instrukur mereka. Mereka berusaha mendaki tangga perusahaan untuk mencapai jabatan penting di perusahaan dimana mereka bekerja.

2. Sekolah Bisnis Keluarga.

Banyak bisnis keluarga yang bisa anda jadikan tempat yang bagus untuk mendapatkan pendidikan bisnis. Contoh bisnis keluarga adalah Bakrie Group atau yang semisalnya. Hanya saja, biasanya seseorang yang “diterima” di sekolah tersebut adalah keluarga mereka.

Tapi kalau anda dekat dengan salah satu dari keluarga mereka, anda bisa belajar banyak dari mereka. Sekolah tersebut adalah sekolah yang bagus. Apalagi jika pemilik perusahaan keluarga tersebut bukan hanya entrepreneur yang hebat, tapi juga guru yang baik.

Anda tidak perlu mencari bisnis sebesar Bakrie Group. Banyak bisnis skala kecil dan menengah yang telah sukses yang bisa anda ikuti. Tinggal mencocokannya dengan tipe bisnis yang cocok bagi anda. Kalau anda belum tahu tipe bisnis apa yang cocok bagi anda, bacalah artikel saya mengenai jenis-jenis bisnis yang cocok bagi anda.

3. Sekolah Bisnis Perusahaan.

Sebagian besar bisnis atau perusahaan menawarkan program internal bagi “siswa muda” yang menjanjikan. Setelah lulus, perusahaan tersebut akan menuntun kemajuan karier mereka. Biasanya perusahaan tersebut membayar biaya pendidikan siswanya, bahkan memberikan waktu untuk meneruskan pendidikan mereka.

Setelah menerima pendidikan formal, karyawan yang menjanjikan tersebut seringkali di rotasi ke divisi berbeda perusahaan itu sehingga mereka bisa melihat keseluruhan bisnis dan mendapatkan pengalaman langsung. Sebagai gambaran, ada sebuah perusahaan, sebut saja “Perusahaan X” yang mempunyai fasilitas pendidikan penjualan.

Anda akan dilatih dengan metode khusus mereka. Setelah itu, mereka akan menuntun anda untuk mepraktekan apa yang telah anda pelajari di ruang kelas. Mentor anda bisa membuat anda tetap berada sesuai dengan teori yang anda dapat di ruang kelas hingga anda mampu menerapkan pada tantangan bisnis di dunia nyata.

Banyak yang bisa anda dapat dari sekolah jenis ini. Tidak hanya ketrampilan menjual yang bisa anda dapat, tapi juga menganalisis strategi pesaing, membuat materi iklan yang efektif dan sebagainya.

4. Sekolah Bisnis di Jalanan.

Sekolah jenis ini menurut Kiyosaki adalah sekolah yang diikuti entrepreneur saat ia meninggalkan “rasa aman” yang ada di sekolah bisnis tradisional, sekolah bisnis keluarga atau sekolah bisnis perusahaan. Ini adalah sekolah tempat “kecerdasan jalanan anda” dibangun, yaitu anda memulai sendiri membangun “kerajaan bisnis” anda sendiri.

Sekolah bisnis di jalanan adalah sekolah bisnis yang buruk, guru yang kasar, dan pelit dalam nilai. Anda seringkali harus berhadapan dengan ketakutan terbesar yang didalamnya terdapat keraguan dalam diri anda. Seringkali anda harus menempuh resiko-resiko bisnis yang sebenarnya daripada hanya teori diatas kertas.

Bahkan jika anda pernah mengikuti sekolah bisnis perusahaan dan terjun langsung di lapangan, kerugian akibat kesalahan dan kegagalan anda ditanggung oleh perusahaan. Paling banter anda tidak mendapatkan komisi. Skenario terburuknya adalah anda dipecat. Di sekolah bisnis jalanan, andalah yang harus menanggung sendiri kerugian akibat kesalahan dan kegagalan anda.

Namun, sekolah jenis ini adalah sekolah bisnis terbaik bagi anda, setidaknya begitulah kata Kiyosaki. Anda tidak akan mendapatkan nilai A dan B, pujian atau komisi yang besar. “Nilai anda” di jalanan diukur dengan uang yang anda dapat dan uang yang anda keluarkan.

Kebanyakan pengusaha atau entrepreneur yang berhasil adalah orang yang mengikuti sekolah jenis ini, terjun langsung membangun sebuah bisnis.

Saya hanya pernah dan masih bersekolah di “sekolah bisnis jalanan” ini. Dan saya mempunyai seorang teman yang mengikuti sekolah bisnis tradisional, jenjang S-2. Saat kami sedang berdiskusi, banyak sekali pendidikan bisnis yang saya dapat dari dia.

Bahkan sampai ke beberapa teori dan perhitungan bisnis yang teramat rumit yang kadangkala bertentangan dengan apa yang saya dapat di sekolah bisnis jalanan. Memang tidak semua, beberapa diantaranya sangat bagus sebagai masukan bagi saya.

Sayangnya, saat ini teman saya memutuskan untuk bekerja membangun bisnis orang lain daripada membangun bisnisnya sendiri. Dengan kata lain, beliau bekerja ke perusahaan orang lain. Itulah mengapa saya setuju dengan pendapat Kiyosaki bahwa sekolah bisnis di jalanan adalah sekolah sekaligus guru yang terbaik.

Anda akan langsung berhadapan dengan “pendidikan bisnis jalanan” yang bengis, kejam dan tak pandang bulu. Seiring dengan waktu, di sekolah bisnis jalanan pengetahuan, keberanian dan mental pengusaha anda akan terbentuk. Jadi, bagi anda yang ingin sekolah bisnis, anda bisa memilih satu atau lebih dari sekolah bisnis diatas.

Kalau saya sendiri, saya lebih suka sekolah bisnis jenis yang keempat, sekolah bisnis jalanan. Karena bagi saya, hanya sekolah itu yang bisa saya pilih dan saya ikuti. Sekolah bisnis terbaik yang pernah saya dapatkan. Ingat, ini bagi saya lho, mungkin anda berbeda. Kalau anda sendiri, pilih yang mana?

www.dokterbisnis.net

Perbanyak "Sekolah Informal"

Kebijakan tentang ditambahnya peluang pendidikan informal memang tengah gencar-gencarnya disosialisasikan oleh pemerintah. Jika saja kita mampu mengapresiasi kebijakan itu secara positif, maka tak harus ada lagi istilah putus sekolah karena kekurangan biaya, tak punya baju seragam, gedung sekolahnya jauh di gunung atau mungkin nyaris roboh. Sekolah informal bisa dilakukan di mana saja dan oleh siapa saja yang memiliki pengetahuan.

Pendidikan bukanlah monopoli sekolah formal. Terlebih jika terkait dengan "masa depan" finansial, hubungan antara pendidikan formal dan pekerjaan seringkali tak beriringan. Semuanya sangat tergantung pada kemauan belajar, kerja keras, dan adaptasi anak-anak terhadap perkembangan zaman.

Seorang petani lulusan sekolah dasar, karena kegigihannya bisa hidup berkecukupan hanya dengan menanam sayuran, TAPI sarjana yang sudah dua tahun lebih lulus dari perguruan tinggi, karena tak punya skill yang memadai untuk memasuki pasar kerja atau mungkin terlalu pilih-pilih pekerjaan, bisa jadi masih saja jadi pengangguran. Semua sangat relatif jika ukurannya adalah kesuksesan masa depan finansial.

Sayangnya, sekolah informal selama ini sering dianggap sebagai sekolah kelas 3 setelah pendidikan formal dan non formal. Sekolah informal lebih berkesan sebagai pilihan paling akhir dari model pendidikan yang ada, yaitu hanya ditujukan bagi mereka yang putus sekolah, ekonomi lemah, kecerdasan rendah, berkebutuhan khusus, dan hal-hal yang marginal lainnya.

Sesungguhnya, sekolah informal bisa berperan lebih dari sekedar alternatif dari pendidikan formal. Namun patut diakui, hal itu akan sangat dipengaruhi oleh kualitas para penyelenggaranya. Sekolah informal bisa menjadi wahana baru bagi tumbuhnya kreativitas pendidikan yang selama ini terlalu dikerangkeng oleh aturan-aturan yang kaku. Sekolah informal bisa menjadi wadah untuk melihat pelajaran dari sudut pandang yang berbeda, yang lebih heterogen, dan juga adaptif terhadap perkembangan yang ada.

Kalau di sekolah formal tumbuhan hanya dipandang sebatas makhluk hidup yang tidak bergerak, memiliki daun, batang, dan akar, maka di sekolah informal seorang pendidik bisa membawa anak-anak pada realitas tumbuhan yang sebenarnya, yang fungsinya bagi kehidupan begitu substansial, sehingga memelihara dan membudidayakannya menjadi sebuah kebutuhan bersama, sehingga menyemai biji dan kemudian menanamnya menjadi pekerjaan lanjutan yang mengasyikkan dan bahkan bisa menghasilkan sesuatu.

Sekolah informal. Semoga siapapun yang peduli, tertarik, dan merasa memiliki kemampuan akan tetap bersemangat untuk menumbuhkannya di wilayah-wilayah terdekat. Hal itu insya Allah akan menjadi amal sholeh tiada terputus yang bisa kita berikan dalam kehidupan ini. Selamat berkarya! Stop dreaming start Action Now!

Minggu, 21 Maret 2010

Filsafat Ekonomi : Pentingnya Belajar Ekonomi

Persoalan Ekonomi adalah persoalan yang sangat penting.
Disadari atau tidak, diakui atau tidak, Ekonomi telah menjadi satu-satunya model dari semua tindakan manusia, bahkan telah merasuk diam-diam ke dalam setiap relasi, setiap hubungan-hubungan antar manusia.
Permasalahan Utamanya bukanlah itu, tapi apakah Model yang dipakai itu adalah Model Ekonomi Syariah ataukah Model Ekonomi Jahiliyah.
Disinilah letak pertarungannya.
Oleh karenanya, menjadi suatu hal yang wajib
belajar ekonomi syariah bagi setiap orang,
agar ia mampu merubah ekonomi dirinya dari ekonomi jahiliyah menjadi ekonomi syariah dan mampu memeliharanya dengan baik.

- Arief Setiawan -